Sombong, Malu pada Allah!
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” (UUD 1945 : Alenia ketiga).
Syaifulloh Yusuf
Ngabdi di UII
http://alrasikh.uii.ac.id/2014/04/28/masihkah-kita-merasa-tinggi/
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” (UUD 1945 : Alenia ketiga).
Alhamdulillah, seiring pujian kita panjatkan kepada sang Maha pemberi kekuatan, sang Maha pemberi nafas, sang Maha pemberi penglihatan, sang Maha pemberi pendengaran, sang Maha pemberi panca indera, sang Maha pemberi kaki untuk berjalan, sang Maha pemberi kasih sayang, sang Maha paling tinggi, sang Maha pemberi keselamatan. Ia Maha segalanya, Ia Maha segala-galanya. Apakah kita sebagai makhluk kecil tak berdaya sekarang ini masih menentengkan tangan di pinggang, masih berlaga’ sombong, masih merasa paling tinggi jabatannya, masih sikut kanan sikut kiri senggol kanan senggol kiri hanya untuk mendapatkan pangkat dan jabatan?.
Kepada siapa kita akan merasa sombong, kepada Allah? Tidak akan sedikitpun mengurangi ketinggian-Nya. Kepada siapa kita menentengkan tangan di pinggang demi hanya dilihat jabatannya, kepada Allah? Sama saja, tidak akan mengurangi keagungan-Nya sedikitpun. Kita masih sering sikut kanan kiri kepada teman, kita masih sering belum berlapang dada dengan segala ujian, kita masih belum mengikhlaskan sebuah “kepergian”, kita masih belum bisa bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya, kita masih jarang sekali mengingat-Nya, dan masih banyak sekali kekurangan kita untuk mengabdi kepada Allah SWT. Jika hal itu terjadi, bagaimana kita akan menjadi hamba yang lebih baik dihadapan-Nya.
Maka dari itu, mari kita perbaiki diri kita, kita servis lagi akhlak kita, kita renovasi lagi usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Syukuri apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita, sabari akan segala bentuk cobaan yang ada, dengan terus dan terus menerus rajin menghambakan diri serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
UUD 1945 : Alenia Ketiga
Undang-Undang Dasar 1945 : Alenia Ketiga berbunyi ; “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Jika kita renungkan secara mendalam, masihkah kita tidak bersyukur atas perjuangan para pendahulu kita, masih pantaskah kita menyandang kata “merdeka” untuk diri kita, masih adakah orang yang tidak yakin bahwa kemerdekaan itu atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa. Para pendahulu kita berjuang sekuat tenaga, berjuang semaksimal usaha, berjuang demi mendapatkan label merdeka. Bagaimana dengan diri kita?
Kita sudah diberikan anugrah terindah berupa kemerdekaan. Kita diberikan fasilitas megah berupa kejayaan. Namun, terkadang kita masih sering lupa akan pelestarian. Indonesia ini adalah kita. Kita adalah Indonesia. Hal ini masih sering dilupakan oleh banyak kalangan masyarakat Indonesia di semua lini kehidupan. Banyak orang yang mengkotak-kotakkan kehidupannya, banyak orang yang tidak peduli dengan tetangganya, banyak orang yang tak bersyukur atas keluarganya. Dengan berbagai persoalan itu semua, mari tenangkan fikiran kita, tarik nafas kita dalam-dalam, sadari akan semua itu, mulai lakukan hal terbaik demi masa depan.
Kita renungi kembali isi alenia diatas, “atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa”, kepada siapa lagi kita akan mengadu, kepada siapa lagi kita akan bersandar, kepada siapa lagi kita akan meminta pertolongan. Sedangkan segala kekuatan, kekuasaan, hanya milik Allah SWT. Tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan jadi apa-apa. Tanpa kekuasaan-Nya kita hanya makhluk yang tak berdaya. Laa hawla walaa quwwata illa billaah, tak ada kekuatan dan daya sedikitpun kecuali hanya dari Allah SWT. Dengan pengabdian kita kepada Allah SWT, ibadah kita kepada-Nya, penyandaran kita kepada-Nya, semoga kita diberikan petunjuk jalan yang lurus demi mendapatkan ridha-Nya.
Masihkah Kita Merasa Tinggi?
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat al-Isra’ : 37 , (“Walâ tamsyi fil ardhi maraha, innaka lan takhriqal ardha wa lan tablughal jibâla tûlâ”. Janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong, sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan pernah menyamai setinggi gunung-gunung). Sindiran Allah SWT bagi kita semua. Bahwa sebenarnya kita masih ada saja yang merasa diri kita tinggi. Padahal Allah SWT telah berfirman setinggi apapun kesombonganmu dimuka bumi ini tidak akan pernah menyamai gunung dan tidak akan pernah menembus bumi.
Sebenarnya, pada hakikatnya kita hanyalah salahsatu makhluk Allah I dari sekian banyak makhluk-Nya. Kemudian, dari sekian banyak makhluk yang telah Allah SWT ciptakan, masih banyak yang lebih tinggi dari diri kita, selanjutnya makhluk Allah SWT yang paling tinggipun masih dibawah kekuasaan Allah SWT. Jadi, apa gunanya kita menyombongkan diri di dunia ini. Tidak di tingkat dunia lah, terlalu jauh dan lebar cakupannya, tingkat universitas sajalah, tingkat pemerintahan desa sajalah, atau bahkan tingkat kelas sajalah dalam perkuliahan. Mari berbenah diri, ingat yang harus digarisbawahi, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri selagi kita mau berusaha sekuat tenaga dengan niat yang baik dan dilaksanakan tanpa ada putus asa.
Begitu juga Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat al-Isra’ : 43 (“subhânahu wata’âlâ ‘amma yaqûlûna ‘uluwwan kabîra” maha suci Allah, Dia adalah setinggi-tingginya, berbeda dengan yang dikatakannya itu). Karena kebanyakan dari kita hanya memandang keatas saja untuk selalu ingin menyaingi dan tak pernah puas atas apa yang ada. Selalu ingin mendapatkan yang lebih dan lebih lagi tanpa ada nya rasa syukur kepada Allah SWT. Saatnya kita memandang keatas untuk memperbaiki diri kita, namun jangan lupa juga kita harus memandang kebawah demi mensyukuri atas apa yang telah kita peroleh. Maka dari itu, masihkah kita merasa tinggi?
Sombong = Jatuh
Berhati-hatilah dengan rasa tinggi diri. Suatu ketika, ada anak kecil sedang maniki pohon dengan ketinggian sepuluh meter untuk memetik buah, tiba-tiba ia dikagetkan dengan datangnya angin kencang, tanpa disadari ia terjatuh kebawah. Setelah ditanya, ia menjawab “tadi saya ga’ pegangan”. Apa komentar sang ibu, “itulah sebabnya, kalo tinggi-tinggi, palagi ga’ ada pegangannya, untung saja hanya luka ringan”. “ia ibu, maafkan saya bu’” jawab sang anak.
Apakah kita menunggu penyesalan datang? Apakah kita menunggu untuk jatuh? Apakah kita sadar ketika itu sudah berpegangan erat? Padahal sang anak telah mendapatkan buah yang banyak di kantong plastiknya. Padahal itu sudah lebih dari cukup untuk keluarganya. Masih saja sang anak naik lagi, lagi, dan lagi untuk mendapatkan buah yang lebih banyak dengan mengabaikan resiko yang ada.
Mari, penulis mengajak kepada para pembaca sekalian, kita ini kadang lalai, kita kadang lupa akan diri kita sendiri. Untuk menjadi orang yang lebih baik memang sulit, namun dari kesulitan-kesulitan itu, kita selalu berbuat dan terus berbuat baik serta mensyukuri atas apa yang telah kita dapatkan jauh lebih baik daripada selalu mencari lebih banyak tanpa menghindarkan rasa sombong pada diri kita. Pada akhirnya, “jatuh” adalah buah dari kesombongan kita.
Syukur = Manis + Senang
Pernahkah kita sebagai mahasiswa menyadari, coba renungkan uang saku perbulan jika kita syukuri akan terasa manis + senang walaupun tak sebanding dengan yang lain. Sebagai seorang kepala keluarga, coba mari kita renungkan, pendapatan kita perbulan mungkin tak seberapa jumlahnya, jika kita syukuri akan terasa manis dan kita merasa senang. Pekerjaan yang kita lakukan sekarang, coba lakukanlah dengan ikhlas, lakukanlah dengan bersyukur pada-Nya, akan berbuah manis dan kita merasa enjoy.
Maka dari itu, penulis kembali mengajak kepada para pembaca sekalian, mari kita pandang hidup ini dengan pandangan yang lebih luas lagi. Kita boleh memandang ke atas, untuk memperbaiki diri, khususnya dalam hal ibadah, penghambaan kita kepada Allah SWT. Cobalah kita juga sering-sering memandang kebawah, tujuannya untuk lebih menambah rasa syukur kita kepada Allah SWT.
Jika ada yang senasib, ada yang sama pangkat dan jabatan, ada yang sama tingkat ibadahnya, ajaklah ia berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan syarat tidak boleh sombong atas apa yang telah kita peroleh. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan kita diberikan kekuatan iman, islam, serta ihsan. “An ta’budallâh ka annaka tarâhu fain lam takun tarâhu fainnahu yarâka” (beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tak melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihatmu). Wallahu a’lamu. []
Syaifulloh Yusuf
Ngabdi di UII
http://alrasikh.uii.ac.id/2014/04/28/masihkah-kita-merasa-tinggi/

0 komentar:
Posting Komentar