Singo Ngumpul Bareng Lagi #1

Jumat malam, Anak-anak SINGO ngadain kumpul bareng, meskipun yang datang belum bisa hadir semua. Maklum masih banyak yang sibuk dengan kegiatan dengan masyarakat sekitar, dan ada juga yang menjadi panitia acara, sehingga tidak bisa ikut ngumpul bareng.Ada juga tidak hadir karena tidak ada kendaraan untuk berangkat.

Bahkan, ada salah satu sahabat yang sudah tidak bisa ikut kumpul bareng lagi, entah kapan bisa ketemu dirinya lagi. Posisinya sudah tidak di Jogja lagi. Sudah bekerja di Jakarta di PT. Astra kalau tidak salah, yang letaknya di Jakarta Utara.

Bermula acara ini digagas Yusuf lewat grup WA (whatsapp) SINGO.  Alhamdulilah disepakati dan pada jumat malam (24/10/14) kami kumpul di MATO.

Tempat yang biasa kami kunjungi, untuk sharing antar angkatan atau membicarakan agenda yang akan kami targetkan. Kebetulan tema pertemuan malam ini tidak ada, hanya kumpul bareng dan sekedar mengobati kerinduan. 'Kangen' sudah lama tidak kumpul bareng lagi.

Yusuf, Acan, Amir, Ansor, Udin, Bagus, Aziz dan Dani, inilah yang malam ini hadir. Mudah-mudahan nanti bisa kumpul semua lagi. Amin.
Read more

Hidup Membutuhkan Perubahan

Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sampai mereka merubah diri mereka, dan jika Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menghalanginya, dan tidak ada Pelindung bagi mereka selain Dia”(QS al-Radu [13]: 11).

Mungkinkah diri kita “berubah”?. “Perubahan”, percaya atau tidak adalah salahsatu aturan dalam kehidupan ini. Setiap individu pasti akan merasakan perubahan. Perubahan dalam diri individu sangat beragam bentuknya. Ada perubahan dari sifat kurang baik menjadi baik, ada seseorang yang berubah dari sifat baik menjadi lebih baik lagi. Namun, kita tidak dapat menolak bahwa ada pula seseorang yang berubah dari sifat baik menjadi kurang baik, bahkan menjadi orang yang sangat buruk pun masih sering kita dapatkan.

Berubah Bagai Membangun Rumah
“Perubahan” sering diartikan mengganti semua yang telah ada dengan sesuatu yang baru. Perubahan diibaratkan “bongkar pasang” kegiatan atau sifat seseorang dan menggantinya dengan kegiatan atau sifat seseorang yang baru. Disisi lain memang tepat bahwa perubahan diartikan sebagai pergantian segala sesuatu yang lama menjadi baru secara keseluruhan. Namun, disisi lain ada baiknya bahwa perubahan diartikan sebagai penambahan sifat atau kegiatan demi menciptakan sebuah kesempurnaan. Itulah hakikat arti dari “perubahan”.

Dalam hal lain dimisalkan bahwa perubahan bak kita membangun rumah secara bertahap. Adakalanya sebuah rumah tidak dirubah secara keseluruhan. Tidak dibongkar rata dengan tanah lalu dibangun kembali yang baru. Memang secara sepintas hal tersebut dibenarkan. 

Tetapi, apabila kita lihat dan telusuri lebih mendalam bahwa sebuah rumah lama, ada bahan-bahan bangunan yang dapat kita manfaatkan kembali untuk membangun rumah kita yang baru. Atau setidaknya, walaupun bangunan rumah dibongkar rata dan tidak kita manfaatkan kembali sisa bangunanya, minimal barang-barang yang terdapat dalam rumah, kita amankan, kita jaga, kita lindungi, untuk kita manfaatkan selanjutnya di rumah baru kita.

Begitulah sama halnya dengan “perubahan” dalam diri seseorang. Seseorang dapat berubah menjadi baik, adakalanya tidak merubah total perbuatannya. Namun, ia menambahi perbuatan baiknya untuk mendapatkan kesempurnaan dalam perbuatan baiknya itu. 

Seseorang ingin sekali merubah dirinya untuk menjadi Muslim yang sempurna, bukan berarti ia menghilangkan sifat mu’min dan muhsinnya. Seseorang tersebut harus menjaga dan melindungi serta benar-benar dipegang kuat agar sifat muhsin dan mu’minnya itu tidak lepas dari dirinya untuk mendapatkan sifat muslim yang lebih sempurna.

Terkadang kita terlena dengan sebuah penghargaan yang baru saja kita dapatkan. Memang samasekali tidak ada buruknya kita bangga dan bahagia mendapatkan penghargaan. Apalagi penghargaan itu berupa seseorang yang mempunyai ke­islaman sempurna. Patut bahagia dan bangga dengan hal itu. Namun, kita jangan sampai terlena bahwa Islam yang sempurna pun harus dibungkus rapat-rapat serta diselimuti dengan selimut iman dan ihsan yang tebal. Sehingga ketiga titik sudut segitiga ini (Islam, Iman, Ihsan) tidak dapat terpisah sedikitpun.

Hidup Tanpa Perubahan
Pasti pembaca bertanya-tanya, bagaimana “hidup tanpa perubahan”?. Sama halnya dengan penulis, awalnya bertanya-tanya bagaimanakah hidup tanpa perubahan. Apakah ada hidup tanpa perubahan?. Lagi-lagi penulis memberikan permisalan hidup seseorang. Seseorang hidup dan berubah bak kendaraan yang kita gunakan selama ini.

Ada kendaraan sepeda motor yang sangat terbaru dan dipasarkan di masyarakat luas. Semua orang meliriknya, semua orang memastikan keawetan sepeda motor tersebut. Setelah beberapa saat dan waktu sepeda motor tersebut dibelinya dan dimanfaatkan sebagimana mestinya. Apabila sepeda motor tersebut kotor, dicucinya. 

Sepeda motor tersebut dilindungi, dijaga dari terik matahari dan hujan. Sebelum dimanfaatkan, dicek terlebih dahulu kelengkapannya, mulai dari lampunya, remnya, kaca spionnya, businya, bannya, gasnya, dan lain sebagainya. Dengan satu tujuan bahwa sepeda motor tersebut dapat nyaman dan membawa ketenangan dalam berkendara.

Setelah beberapa bulan dan mungkin beberapa tahun, sedikit demi sedikit ada saja yang perlu di benarkan. Baik bannya yang perlu diganti, karena sudah sangat tipis. Businya diganti karena sering mandheg. Remnya diganti karena kampas remnya habis. Dan yang terpenting adalah oli sepeda motor harus selalu diperhatikan. 

Ada yang perlu di jaga, seperti body motor, pemberian oli rante, membersihkan secara rutin, dan perawatan lainnya. Permasalahannya adalah siapa yang memanfaatkan sepeda motor tersebut. Ada orang yang peduli, ada pula orang yang sangat tidak peduli dengan sepeda motornya tersebut, bahkan sampai diperingatkan oleh orang lain untuk menjaga, melindungi, dan mengurusi sepeda motornya tersebut.

Begitulah dengan kehidupan kita. Awalnya suci, bening, lembut. Sampai pada beberapa bulan dan tahun ada perubahan pada diri kita. Baik dari sifat kita, perbuatan kita, keyakinan kita dan lain sebagainya. Mari sadarkan diri kita masing-masing. Penulis mengajak kepada pembaca dan penulis pribadi, apakah kita termasuk orang yang menjaga, melindungi, mengurusi diri kita atau malah sebaliknya. Apakah kita sudah melakukan perubahan pada diri kita menjadi lebih baik atau sebaliknya. 

Semoga saja kita telah sadar dengan kesadarn kita yang sedalam-dalamnya untuk merubah diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya jika kita tidak mau atau malu dengan peringatan orang lain justru untuk merubah diri kita. Jadi pada hakikatnya “hidup tanpa perubahan” adalah hal yang tidak mungkin. Karena perubahan itu pasti kita alami, baik dengan cara apapun.

Hambatan Perubahan
Apakah ada hambatan bagi kita untuk berubah? Penulis sampaikan dengan tegas bahwa tidak ada hambatan samasekali untuk berubah, dengan syarat seseorang yakin pada dirinya untuk berubah. Karena dengan keyakinan seseorang tersebut diiringi usaha maksimal untuk berubah, maka Tuhan tidak jauh dari kita untuk memberikan perubahan. Karena Tuhan sangat dekat dengan kita apabila kita mau selalu mendekatkan diri padaNYA.

Disisi lain, kita tidak bisa menggerutu dan menyesali dunia. Kitapun diharapkan untuk tidak membandingkan zaman, dengan menyampaikan “wah, zaman dulu lebih enak dari sekarang”. Justru ini adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas Iman, Ihsan, dan Islam seseorang. Menghadapi zaman yang selalu berubah adalah cara kita untuk merubah diri menuju tangga berikutnya, sehingga anak tangga yang sangat banyak dapat kita taklukkan sampai pada pucak tertinggi. Sebenarnya tidak ada hambatan bagi seseorang untuk berubah selagi ia mau menghadapi segala sesuatu dihadapannya dengan baik.

Prof. Zaini Dahlan menyampaikan bahwa “hiduplah seperti air mengalir”. Kemudian lebih disederhanakan oleh Dr. Janan Asiffuddin bahwa “hidup seperti air mengalir” itu bukan berarti hidup lurus dan monoton. Hiduplah bagaikan air mengalir, jika ada bebatuan dan rintangan yang menghalang, maka hadapi dengan mencari jalan lain untuk selalu mengalir. Kemudian mengambil jalan lain pun harus mencari jalan aspal yang sehalus mungkin, aspal yang sebaik mungkin, aspal yang matang sehingga tidak akan pernah rusak lagi jalannya. Jangan sampai mengambil jalan yang kasar, yang tidak baik, jalan yang berlobang, segala cara dilakukan demi mendapatkan predikat dan jabatan. Apalagi predikat dan jabatan itu hanya untuk diperlihatkan kepada orang lain, bukan kepada-Nya. Na’ûdzubillâh min Dzâlik.

Akhirnya, Pelajaran Yang Harus Dipetik
Jadilah orang yang selalu berubah. Karena perubahan itu pasti adanya. Pastinya kita meniatkan diri untuk berubah menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Lantas bagaimana dengan perubahan zaman? Kita harus lebih bijak dengan perubahan zaman. Sudah sangat jelas bahwa المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح , “menjaga segala sesuatu yang lama itu baik, dan mengambil yang baru itu baik pula”. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita bisa berubah? Kita yakin kita bisa berubah. Karena Allah telah berfirman dalam al-Qur’an Surat al-Ra’du [13]: 11 إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم . “Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum, sampai mereka merubah diri mereka”.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa kehidupan selalu membutuhkan perubahan. Dan setiap orang harus merubah dirinya sendiri dengan jalan yang baik, halal dan dibenarkan menurut syari’at agama. Dalam perubahan, seseorang hanya mengumpulkan sifat-sifat baiknya yang masih tercecer di sudut-sudut kehidupannya untuk dikumpulkan sehingga menyempurnakan hidupnya. Semoga dengan menyempurnakan sifat-sifat baik tersebut, kita menjadi manusia muhsin, mu’min dan muslim yang sempurna. Amin yaa rabbal ‘âlamîn.[ ]

Syaifulloh Yusuf
Staff Badan Perencana UII
http://alrasikh.uii.ac.id/2013/11/09/hidup-membutuhkan-perubahan/
Read more

Masihkah Kita Merasa Tinggi?

Sombong, Malu pada Allah!

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” (UUD 1945 : Alenia ketiga).

Alhamdulillah, seiring pujian kita panjatkan kepada sang Maha pemberi kekuatan, sang Maha pemberi nafas, sang Maha pemberi penglihatan, sang Maha pemberi pendengaran, sang Maha pemberi panca indera, sang Maha pemberi kaki untuk berjalan, sang Maha pemberi kasih sayang, sang Maha paling tinggi, sang Maha pemberi keselamatan. Ia Maha segalanya, Ia Maha segala-galanya. Apakah kita sebagai makhluk kecil tak berdaya sekarang ini masih menentengkan tangan di pinggang, masih berlaga’ sombong, masih merasa paling tinggi jabatannya, masih sikut kanan sikut kiri senggol kanan senggol kiri hanya untuk mendapatkan pangkat dan jabatan?.

Kepada siapa kita akan merasa sombong, kepada Allah? Tidak akan sedikitpun mengurangi ketinggian-Nya. Kepada siapa kita menentengkan tangan di pinggang demi hanya dilihat jabatannya, kepada Allah? Sama saja, tidak akan mengurangi keagungan-Nya sedikitpun. Kita masih sering sikut kanan kiri kepada teman, kita masih sering belum berlapang dada dengan segala ujian, kita masih belum mengikhlaskan sebuah “kepergian”, kita masih belum bisa bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya, kita masih jarang sekali mengingat-Nya, dan masih banyak sekali kekurangan kita untuk mengabdi kepada Allah SWT. Jika hal itu terjadi, bagaimana kita akan menjadi hamba yang lebih baik dihadapan-Nya.

Maka dari itu, mari kita perbaiki diri kita, kita servis lagi akhlak kita, kita renovasi lagi usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Syukuri apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita, sabari akan segala bentuk cobaan yang ada, dengan terus dan terus menerus rajin menghambakan diri serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

UUD 1945 : Alenia Ketiga
Undang-Undang Dasar 1945 : Alenia Ketiga berbunyi ; “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Jika kita renungkan secara mendalam, masihkah kita tidak bersyukur atas perjuangan para pendahulu kita, masih pantaskah kita menyandang kata “merdeka” untuk diri kita, masih adakah orang yang tidak yakin bahwa kemerdekaan itu atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa. Para pendahulu kita berjuang sekuat tenaga, berjuang semaksimal usaha, berjuang demi mendapatkan label merdeka. Bagaimana dengan diri kita?

Kita sudah diberikan anugrah terindah berupa kemerdekaan. Kita diberikan fasilitas megah berupa kejayaan. Namun, terkadang kita masih sering lupa akan pelestarian. Indonesia ini adalah kita. Kita adalah Indonesia. Hal ini masih sering dilupakan oleh banyak kalangan masyarakat Indonesia di semua lini kehidupan. Banyak orang yang mengkotak-kotakkan kehidupannya, banyak orang yang tidak peduli dengan tetangganya, banyak orang yang tak bersyukur atas keluarganya. Dengan berbagai persoalan itu semua, mari tenangkan fikiran kita, tarik nafas kita dalam-dalam, sadari akan semua itu, mulai lakukan hal terbaik demi masa depan.

Kita renungi kembali isi alenia diatas, “atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa”, kepada siapa lagi kita akan mengadu, kepada siapa lagi kita akan bersandar, kepada siapa lagi kita akan meminta pertolongan. Sedangkan segala kekuatan, kekuasaan, hanya milik Allah SWT. Tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan jadi apa-apa. Tanpa kekuasaan-Nya kita hanya makhluk yang tak berdaya. Laa hawla walaa quwwata illa billaah, tak ada kekuatan dan daya sedikitpun kecuali hanya dari Allah SWT. Dengan pengabdian kita kepada Allah SWT, ibadah kita kepada-Nya, penyandaran kita kepada-Nya, semoga kita diberikan petunjuk jalan yang lurus demi mendapatkan ridha-Nya.

Masihkah Kita Merasa Tinggi?
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat al-Isra’ : 37 , (“Walâ tamsyi fil ardhi maraha, innaka lan takhriqal ardha wa lan tablughal jibâla tûlâ”. Janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong, sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan pernah menyamai setinggi gunung-gunung). Sindiran Allah SWT bagi kita semua. Bahwa sebenarnya kita masih ada saja yang merasa diri kita tinggi. Padahal Allah SWT telah berfirman setinggi apapun kesombonganmu dimuka bumi ini tidak akan pernah menyamai gunung dan tidak akan pernah menembus bumi.

Sebenarnya, pada hakikatnya kita hanyalah salahsatu makhluk Allah I dari sekian banyak makhluk-Nya. Kemudian, dari sekian banyak makhluk yang telah Allah SWT ciptakan, masih banyak yang lebih tinggi dari diri kita, selanjutnya makhluk Allah SWT yang paling tinggipun masih dibawah kekuasaan Allah SWT. Jadi, apa gunanya kita menyombongkan diri di dunia ini. Tidak di tingkat dunia lah, terlalu jauh dan lebar cakupannya, tingkat universitas sajalah, tingkat pemerintahan desa sajalah, atau bahkan tingkat kelas sajalah dalam perkuliahan. Mari berbenah diri, ingat yang harus digarisbawahi, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri selagi kita mau berusaha sekuat tenaga dengan niat yang baik dan dilaksanakan tanpa ada putus asa.

Begitu juga Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat al-Isra’ : 43 (“subhânahu wata’âlâ ‘amma yaqûlûna ‘uluwwan kabîra” maha suci Allah, Dia adalah setinggi-tingginya, berbeda dengan yang dikatakannya itu). Karena kebanyakan dari kita hanya memandang keatas saja untuk selalu ingin menyaingi dan tak pernah puas atas apa yang ada. Selalu ingin mendapatkan yang lebih dan lebih lagi tanpa ada nya rasa syukur kepada Allah SWT. Saatnya kita memandang keatas untuk memperbaiki diri kita, namun jangan lupa juga kita harus memandang kebawah demi mensyukuri atas apa yang telah kita peroleh. Maka dari itu, masihkah kita merasa tinggi?

Sombong = Jatuh
Berhati-hatilah dengan rasa tinggi diri. Suatu ketika, ada anak kecil sedang maniki pohon dengan ketinggian sepuluh meter  untuk memetik buah, tiba-tiba ia dikagetkan dengan datangnya angin kencang, tanpa disadari ia terjatuh kebawah. Setelah ditanya, ia menjawab “tadi saya ga’ pegangan”. Apa komentar sang ibu, “itulah sebabnya, kalo tinggi-tinggi, palagi ga’ ada pegangannya, untung saja hanya luka ringan”. “ia ibu, maafkan saya bu’” jawab sang anak.

Apakah kita menunggu penyesalan datang? Apakah kita menunggu untuk jatuh? Apakah kita sadar ketika itu sudah berpegangan erat? Padahal sang anak telah mendapatkan buah yang banyak di kantong plastiknya. Padahal itu sudah lebih dari cukup untuk keluarganya. Masih saja sang anak naik lagi, lagi, dan lagi untuk mendapatkan buah yang lebih banyak dengan mengabaikan resiko yang ada. 

Mari, penulis mengajak kepada para pembaca sekalian, kita ini kadang lalai, kita kadang lupa akan diri kita sendiri. Untuk menjadi orang yang lebih baik memang sulit, namun dari kesulitan-kesulitan itu, kita selalu berbuat dan terus berbuat baik serta mensyukuri atas apa yang telah kita dapatkan jauh lebih baik daripada selalu mencari lebih banyak tanpa menghindarkan rasa sombong pada diri kita. Pada akhirnya, “jatuh” adalah buah dari kesombongan kita.

Syukur = Manis + Senang
Pernahkah kita sebagai mahasiswa menyadari, coba renungkan uang saku perbulan jika kita syukuri akan terasa manis + senang walaupun tak sebanding dengan yang lain. Sebagai seorang kepala keluarga, coba mari kita renungkan, pendapatan kita perbulan mungkin tak seberapa jumlahnya, jika kita syukuri akan terasa manis dan kita merasa senang. Pekerjaan yang kita lakukan sekarang, coba lakukanlah dengan ikhlas, lakukanlah dengan bersyukur pada-Nya, akan berbuah manis dan kita merasa enjoy.

Maka dari itu, penulis kembali mengajak kepada para pembaca sekalian, mari kita pandang hidup ini dengan pandangan yang lebih luas lagi. Kita boleh memandang ke atas, untuk memperbaiki diri, khususnya dalam hal ibadah, penghambaan kita kepada Allah SWT. Cobalah kita juga sering-sering memandang kebawah, tujuannya untuk lebih menambah rasa syukur kita kepada Allah SWT. 

Jika ada yang senasib, ada yang sama pangkat dan jabatan, ada yang sama tingkat ibadahnya, ajaklah ia berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan syarat tidak boleh sombong atas apa yang telah kita peroleh. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan kita diberikan kekuatan iman, islam, serta ihsan. “An ta’budallâh ka annaka tarâhu fain lam takun tarâhu fainnahu yarâka” (beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tak melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihatmu). Wallahu a’lamu. []

Syaifulloh Yusuf
Ngabdi di UII
http://alrasikh.uii.ac.id/2014/04/28/masihkah-kita-merasa-tinggi/
Read more

Isra dan Mi'raj; Pristiwa Besar Islam

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah SWT adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah SWT di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah SWT beserta orang-orang yang bertakwa. (Q.S al-Taubah [9]: 36)

Menurut Kamal Faqih Imani dalam Tafsir Nûr al-Qur’ân disebutkan bahwa sejak hari dibentuknya sistem tata surya seperti bentuk yang kita lihat sekarang ini, terbentuk pula hitungan tahun dan bulan. Hitungan satu tahun adalah perputaran lengkap dari rotasi bumi mengelilingi matahari dan dalam hitungan satu bulan adalah pergerakan penuh dari rotasi bulan mengelilingi bumi, yang terjadi sebanyak dua belas kali dalam setahun.

Kemudian al-Quran menambahkan bahwa terdapat empat bulan di antara dua belas bulan itu yang haram (disucikan), dimana menurut hukum agama diharamkan pada bulan-bulan yang empat itu untuk bertempur dan berperang, yang dapat dipahami dari beberapa literatur Islam bahwa larangan berperang selama empat bulan ini adalah merupakan perintah yang bukan hanya dalam agama (kepercayaan) Nabi Ibrahim as., tetapi juga dalam agama yang diturunkan Allah kepada kaum Yahudi dan Nasrani. Sehingga apabila ada serangan dari kaum kafir kepada kaum muslim, maka sudah semestinya bagi muslimin yang monoteistik untuk bersatu dalam satu barisan yang kokoh melawan musuh Islam.

Bulan haram pada ayat di atas ialah bulan yang dihormati dan dimuliakan oleh al-Quran, mayoritas ahli tafsir mengemukakan bahwa ada empat bulan haram Asyhur al-Hurum yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam bulan-bulan tersebut, kaum muslimin dilarang mengadakan peperangan, setiap bulan ataupun hari-hari tertentu yang dimuliakan pasti mempunyai makna sejarah dan nilai filosofis yang sangat berarti bagi kaum muslimin, demikian halnya dengan Rajab.

Ada yang berpendapat bahwa bulan Rajab memiliki bermacam keutamaan lalu menganjurkan kaum muslimin untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu agar mereka dapat meraih (fadhilah) keutamaan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, dijelaskan bahwa Rasulullah s.a.w. apabila memasuki bulan Rajab beliau senantiasa berdo’a, “Allahumma Bârik Lanâ Fî Rajab wa Sya’bân wa Ballighnâ Ramadhân” (Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami barakah di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan) (H.R. Ahmad)

Peristiwa Besar
Allah SWT berfirman, “Maha suci Allah SWT yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Q.S al-Maidah [5]:1)

Isra adalah berjalan pada waktu malam hari. Mi’raj adalah semacam alat untuk naik. Sedangkan Istilah Isra dalam sejarah Islam adalah perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. pada waktu malam hari dari masjid al-Haram di Mekah ke masjid al-Aqsha di Yerusalem, dengan waktu yang sangat singkat. Adapun Mi’raj berarti perjalanan Rasulullah dari bumi  sampai ke langit ke tujuh dan sampai ke Sidrat al-Muntaha. Dalam istilah lain Mi’raj adalah kenaikan Nabi Muhammad s.a.w. dari Masjid al-Aqsha di Yerusalem, ke alam atas (langit) melalui beberapa tingkatan, terus menuju Bait al-Makmur, Sidrat al-Muntaha, Arasy (tahta Tuhan), dan kursi (singgasana Tuhan), dan menerima langsung wahyu dari Allah SWT.

Peristiwa ini juga di sebutkan dalam surat lain yaitu pada surat an-Najm (53/ 1-18) “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang Dia berada di ufuk yang  tinggi, kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi), lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan,  hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 

Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrat al-Muntaha, di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (Q.S al-Najm [53]: 1-18). Awal surat al-Isra dan beberapa ayat awal surat an-Najm memberitakan apa yang dilihat oleh Nabi Muhamad s.a.w. dalam peristiwa Isra wal Mi’raj. Awal surat al-Isra berbicara tentang Isra dan surat al-Najm membicarakan tentang Mi’raj.

Peristiwa pra-Isra dan Mi’raj
Peristiwa Isra dan Mi’raj telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,  pada suatu malam ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang berada di Hatim (dekat Ka’bah), tiba-tiba Malaikat Jibril datang membelah dada Nabi s.a.w. hati Nabi di keluarkan dan di sucikan dengan air zam-zam, kemudian kedalam hatinya di masukannya iman dan hikmah yang telah disediakannya di bejana emas. Dengan di bimbing oleh Jibril, Nabi Muhammad s.a.w. berangkat menuju Bait al-Maqdis  dan Masjidn al-Aqsha, kemudian melakukan shalat dua raka’at yang di ikuti oleh Nabi-Nabi terdahulu. 

Setelah selesai shalat Jibril datang menemui Nabi dengan membawa dua gelas. minuman, gelas yang satu berisi susu dan gelas yang satu lagi berisi arak, Malaikat Jibril mempersilakan Nabi Muhammad s.a.w. meminumnya, dan Nabi Muhammad memilih susu, kemudian Malaikat Jibril mengatakan “seandainya kamu memilih arak niscaya umatmu akan tersesat”.  Berakhirlah proses Isra disini.

Kemudian dimulailah proses Mi’raj, Nabi Muhammad bersama Malaikat Jibril naik ke langit. Sesampainya di langit Malaikat Jibril meminta penjaga supaya dibukakan pintu, sebelum masuk Jibril di tanya “Siapakah ini? “ Jibril menjawab “ Aku Jibril” kemudian di tanya lagi siapakah yang bersama engkau ? Jibril menjawab “Muhammad” kemudian di tanya lagi, “apakah ia sudah mendapat panggilan?” Jibril menjawab “ya, dia  sudah dapat panggilan” malaikat penjagapun membuka pintu untuk Nabi Muhammad s.a.w. dan Jibril sambil mengucapkan salam atas kedatangannya Nabi Muhammad s.a.w.

Di langit pertama bertemu dengan Nabi Adam as dan memberinya salam, Nabi Adam as menjawab salamnya dan mendoakanannya, sesudah itu tiba-tiba Rasulullah melihat wujud samar-samar yang berwarna hitam yang ada di sebelah kanan dan kiri tempat duduk Nabi Adam as, bila menoleh ke sebelah kanan Nabi Adam senyum tapi bila menoleh kesebalah kiri ia bersedih, ternayata yang di sebelah kanan adalah surga dan yang sebelah kiri adalah neraka. 

Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. naik ke langit yang kedua, keduanya sama di sambut seperti di langit yang pertama. Di sini Nabi Muhammad s.a.w. bertemu dengan Nabi Isa a.s. dan Nabi Yahya a.s. Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada keduanya dan salam ini di sambut baik dan dengan hormat, keadaan seperti ini terjadi pada langit ketiga sampai kelangit ketujuh. Di langit ke tiga Nabi Muhammad s.a.w. bertemu dengan Nabi Yusuf a.s, di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris a.s, di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun as, dilangit keenam bertemu dengan Nabi Musa as. dan di langit yang ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s.

Di Sidart al-Muntaha Rasulullah s.a.w. berangkat ke al-Mustawa, kehadirat Allah SWT. Disinilah Nabi Muhammad s.a.w. menerima wahyu kewajiban shalat lima puluh kali sehari-semalam. Ketika Nabi turun dan sampai di langit yang keenam, Nabi Musa a.s. menyarankan agar shalat lima puluh kali itu dikurangi, mengingat kemampuan umat Nabi Muhammad s.a.w. sangat terbatas. Atas saran itu Nabi s.a.w. kembali ke khadirat Allah SWT mohon dikurangi, dan Allah SWT akhirnya berkenan menguranginya menjadi lima kali selama sehari-semalam.

Kejadian luar biasa ini sudah keluar dari batas-batas hukum alam materi, oleh karena itu Jumhur Ulama memandang bahwa peristiwa ini dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w. dengan ruh dan jasadnya, seandainya hanya dilakukan dengan ruh, atau hanya melalui mimpi maka hal itu bukanlah hal yang luar biasa, karena ruh dapat melakukan yang demikian. Akan tetapi ini adalah peristiwa luar biasa, karena yang di terima oleh Nabi Muhammad s.a.w adalah perintah shalat, yang wajib dilakukan secara rohani melainkan dengan jasmani.

Marilah kita tingkatkan Ibadah kita kepada Allah dengan mengerjakan semua apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangannya, serta mensyukuri shalat yang kini dikerjakan hanya lima kali dalam sehari-semalam, apa jadinya jika lima puluh kali dalam sehari-semalam.? Inilah yang harus kita syukuri dan lebih rajin untuk menunaikannya, semoga kita di beri kekuatan untuk selalu menunaikannya hingga akhir hayat dan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Amin ya rabbal’alamin. []

Amir Hamzah
Mahasiswa PAI UII 2009/2010
http://alrasikh.uii.ac.id/2010/07/08/isra-dan-miraj-peristiwa-besar-dalam-sejarah-islam/
Read more

Manusia Makhluk Paling Ampuh

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat dzalim dan sangat bodoh” (QS al-Ahzab [33]: 72)

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Dengan segala potensi yang dimiliki manusia mampu menciptakan (baca: menghasilkan) berbagai macam teknologi modern. Dengan segala kemampuannya manusia mampu menembus ruang angkasa yang jauh di sana atas kekuasaan Allah Yang Maha Mulia sebagaimana dalam firman-Nya, “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (teknologi)”. (QS al-Rahmân [55]: 33)

Berkat karunia Tuhan manusia bisa memperoleh berbagai pengetahuan yang sangat berguna untuk kemaslahatannya di dunia. Dengan predikatahsanu taqwim (sebaik-baik ciptaan) yang ada padanya manusia berbeda dengan semua makhluk lain. Satu aspek penting yang membedakan manusia dengan yang lainnya adalah manusia dikaruniai akal sedangkan tidak demikian dengan makhluk lainnya. Sehingga menjadi sebuah keniscayaan jika manusia harus memaksimalkan potensi otaknya (akal) untuk mengarungi lautan kehidupan di dunia yang fana ini. Dengan demikian kesempurnaan manusia sebagai hamba Tuhan terealisasi dan termanifestasi melalui berbagai macam prestise dan pencapaian yang diperoleh.

Sebagai khalifah di muka bumi (khalifatun fi al-ardh) ini tentu manusia memiliki tanggung jawab yang besar. Manusia-lah yang mengatur kehidupannya di dunia ini, mereka yang berusaha melestarikan alam, tetapi tidak sedikit juga yang malah melakukan kerusakan (fasad). Semua itu akan dipertanggungjawabkan di sisi Tuhan kelak pada waktu perhitungan amal. Sedangkan makhluk selain manusia bebas dari tanggung jawab karena mereka hidup di dunia tanpa karunia akal dan apa yang mereka lakukan adalah sesuai dengan kehendak Allah (dalam kendali-Nya).

Andaikata tidak ada hidup setelah mati, tidak ada tanggung jawab dibalik tindakan yang kita lakukan maka pasti kehidupan di dunia ini penuh dengan huru-hara, hampa dari kebenaran dan kebaikan. Namun karena pada hakikatnya manusia itu sadar akan tanggung jawab yang akan diperoleh di akhirat kelak maka dalam setiap perbuatannya, manusia memikirkan baik buruknya. Jika dinilai baik maka ia lakukan dan balasan kebaikan pula yang akan diperoleh dan sebaliknya jika dirasa buruk dan menimbulkan mudharat (bahaya) maka akan berusaha dijauhi dan ditinggalkan.

Manusia Makhluk yang Paling Ampuh
Ketika Allah menanyakan kepada langit, bumi dan pegunungan apakah mereka sanggup mengemban amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Tak satupun dari mereka yang meng-iyakan bahkan mereka khawatir tidak sanggup memikul amanah itu. Namun akhirnya manusia yang bersedia memikul amanah itu dan nantinya akan dipertanggungjawabkan di yaumul qiyamah (hari pembalasan). Hal ini terjadi sebelum penciptaan manusia, ketika Adam a.s ditanya, “Wahai Adam, apakah engkau sanggup memikul amanah itu (hidup dengan penuh ketaatan di jalan Allah) dan sanggup menjaganya dengan penjagaan yang sempurna (himayah tammah)?” tanya Allah Subhanuahu wa ta’ala. Lalu apa jawab Adam, “Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali sanggup menerima amanah itu.” Jawab Adam.

Kemudian Allah pun berkata, “Jika engkau berbuat baik, manaati perintahku dan memelihara amanat itu maka disisiku adalah kemulian, keutamaan, balasan yang baik (surga/jannah) tetapi jika engkau berbuat maksiat, tidak engkau jaga amanat itu, dan justru engkau menodainya maka sesungguhnya Aku akan mengadzab dan menghukum kalian (manusia) dengan aku masukkan ke neraka.” Lalu Adam a.s menjawab, “Aku ridha dengan putusan itu.” (terjemahan bebas dari tafsir Ibnu Katsirkarangan Abu al-Fida’ ‘Ismail bin Katsir). Dengan demikian manusia-lah yang akhirnya mengemban amanah yang berat itu dari Allah SWT.

Disinilah sebenarnya letak keampuhan (kehebatan) manusia, manakala semua makhluk Tuhan tidak sanggup menerima amanat dari Tuhan karena khawatir tidak sanggup menjalankannya justru manusia menerima itu dengan segala konsekuensinya. Ketika semua makhluk Tuhan menolak untuk dijadikan khalifah di muka bumi, manusia datang dengan siap dan berkata bahwa ia sanggup mengemban amanah itu. Padahal kita tahu bahwa tabiat manusia tidak selamanya mengarah kepada kebaikan, pikiran mereka tidak selamanya tertuju kepada hal-hal positif, tindakan meraka tak selalu baik dan sesuai dengan aturan agama. Terkadang ia sadar akan amanat dan tanggung jawab yang ia emban dengan selalu berbuat kebajikan namun di sisi lain ia melalaikan itu dengan berbuat maksiat yang justru menjauhkan dirinya dari rahmat Tuhan.

Hal ini merupakan sesuatau yang wajar sebab manusia selain memiliki insting ilahiyah juga mewarisi sifat-sifat bahimiyah (hewan) dansyaithaniyah (setan). Sesuai dengan konsep iman yang dikemukakan oleh kaum salafiyah (salafiyyun) bahwa al-imanu yazidu wa yanqusu, yazidu bil al-thâ’ah wa yanqusu bi al-ma’shiyah (iman itu akan bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan). Maka akan wajar manakala manusia itu selalu berbuat baik dan ketaatan derajatnya akan lebih tinggi dari malaikat sekalipun ketika berbuat kemaksiatan bisa saja lebih hina dan nista dari hewan bahkan setan.

Di akhir surat al-Ahzab [33] ayat 72 di atas Allah SWT berfirman bahwa sesungguhnya manusia itu sangatlah dzalim dan bodoh (dhaluman jahulan). Hal ini karena kesedian manusia menerima amanah Tuhan yang sesungguhnya begitu berat untuk dilaksanakan sebab kita tahu akibatnya akan fatal andai saja manusia tidak bisa menjalankannya yaitu akan disiksa di neraka. Padahal seluruh makhluk yang ada di dunia menolak penawaran itu, manusia dengan lugunya ridha dengan putusan itu. Hingga sampai saat ini pun manusia masih tetap eksis di dunia dengan beragam tindakan dan perilaku mereka. Dan perlu direnungkan kembali bahwa nantinya perbuatan itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat dan tak seorang manusiapun luput dari hisab (balasan amal manusia selama di dunia) itu.

Semua individu akan merasakan balasan amalnya di dunia, baik yang ia kerjakan kebaikan pula yang diterima, buruk yang ia kerjakan keburukan juga yang akan didapatkan. Begitulah kira-kira hal ihwal balasan amal manusia di akhirat nanti. Allah Maha Adil dalam segala sesuatunya dan tidak akan pernah mendzalimi hambanya, prinsip ini yang perlu kita pegang dan dijadikan pedoman. Sehingga predikat dzalim dan bodoh itu sedikit demi sedikit akan tereduksi dan yang tertinggal adalah adil pintar, bijak dan arif dalam segala hal dan tindakan.

Dalam kondisi tertentu Allah SWT memuji manusia (Muhammad SAW) karena keluhuran budi pekerti yang dimiliki namun di sisi lain mencela manusia karena kelalaian dan kebodohannya. Artinya memang pujian dan celaan itu ibarat dua sisi mata uang yang tiada pernah dapat dipisahkan, dimana kita temukan satu sisi mata uang disitu pula kita dapatkan sisi yang lain. Hal ini sesuai dengan sunnatullah (ketetapan Allah) yang menciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan, misalnya dalam konsep jodoh yang disana benar-benar terlihat sisi kebesaran Tuhan. Terkadang orang yang secara fisik jelek menikah dengan orang yang tampan atau cantik, tidak bisa kita kritisi karena memang itulah jodoh. Kalau kita paksakan orang tampan mesti menikah dengan wanita cantik, padahal jodohnya adalah wanita yang tidak cantik, sampai kapanpun tidak akan bisa karena sekali lagi itu bukan pasangannya (jodohnya), dan ini akan menyalahi kodrat Allah.

Mungkin justru dengan wanita yang tidak cantik itu membuat hati sang pria tenang dan justru mampu menciptakan keluarga yang harmonis. Ini lagi-lagi merupakan salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah yang menciptakan sesuatu selalu berpasangan (azwajan) sekaligus sebagai bukti bahwa manusia itu adalah makhluk yang diistimewakan. Hal ini tentu akan memotivasi kita untuk tidak hanya sekadar merenung (kontemplasi) tetapi juga berintrospeksi diri (muhasabah)terhadap semua amal yang telah kita perbuat. Sudahkah kita menunaikan amanah yang diberikan Allah kepada kita atau justru selama ini kita lalai akan amanah itu.

Epilog
Manusia sebagai kita fahami dari uraian di atas adalah makhluk Tuhan yang paling ampuh, sebaik-baik ciptaan Tuhan dengan segala kelebihan dan keutaman yang diberikan Allah. Satu-satunya makhluk yang sanggup menerima amanah Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu marilah kita gunakan potensi yang diberikan Allah ini untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan. Jangan sampai nantinya kita menyesal karena telah berbuat kemaksiatan di dunia dan lalai akan amanah itu. Mulai saat ini kita renungkan baik-baik bahwa kita hidup di dunia ini tiada lain kecuali hanyalah untuk beribadah kepada Allah sesuai dengan amanah yang kita emban.

Semua yang kita lakukan pasti ada akibatnya dan akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dan mari kita jadikan amanah yang telah diberikan Tuhan kepada kita sebagai motivasi untuk terus mengabdi dan mengabdi demi sebuah kebahagian di dunia dan di akhirat serta memperoleh ridha Allah Yang Maha Agung. Semoga kita termasuk golongan orang yang selalu sadar akan amanah yang kita bawa dan dapat mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Allahumma, hassin a’malana wa balligh ha ila imtiyaziha, amin ya Allah, ya mujiba du’ais sailin. Wallahu a’lamu bi al-shawâb[]

Samsul Zakaria,
Mahasiswa Prodi Hukum Islam FIAI
dan Santri PonPes UII angkatan 2009
http://alrasikh.uii.ac.id/2010/04/27/manusia-makhluk-paling-ampuh/
Read more

Ramadhan, Stabilitas Emosi

…Hanya orang-orang yang bersabar-lah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS al-Zumar [39]: 10)

Setidaknya ada empat (4) hal yang dapat digunakan untuk mengukur ‘stabilitas emosi’ seseorang. Sebelum melangkah lebih jauh, hal yang harus dipahami adalah bahwa emosi tidak melulu soal amarah atau kemarahan. Emosi sebenarnya adalah terminologi yang sangat general (universal). Emosi—juga—berarti kesedihan, kegembiraan, kegalauan, keriangan, dan seterusnya. Namun tidak dimungkiri pula bahwa dalam realitas sosial kita, emosi lebih dekat dengan makna ‘(a)marah’ atau ‘murka’.

Seorang yang sedikit-sedikit marah biasanya dijuluki dengan pribadi yang ‘emosian’. Orang yang emosian biasanya malah menjadi bahan guyonan, dan bahkan ejekan. Orang yang biasa marah, hanya karena masalah (yang) sepele, sudah kebakaran jenggot. Tentu ini adalah makna kiasan. Tidak semua yang kebakaran jenggot punya jenggot beneran. Simpelnya dapat dipahami bahwa berbicara masalah ‘emosi’ maknanya adalah perihal kemarahan, dan yang senada dengannya.

Lalu, apakah empat (4) hal yang penulis maksudkan di awal? Pertama, stabilitas emosi dapat dilihat dari sudut pandang geografis. Maksudnya, dari mana kita berasal. Contoh sederhananya, antara orang kota dan orang desa. Kalau boleh jujur, kira-kira antara ‘orang kota’ dengan ‘orang desa’ mana yang lebih stabil emosinya? Meskipun belum berdasarkan penelitian yang valid, nampaknya emosi orang desa yang lebih stabil. Emosi orang kota dengan segenap setting kulturalnya biasanya (lebih) tidak stabil.

Kedua, dilihat dari jenis kelamin (gender). Sekali lagi ini adalah renungan bersama, yang tidak memerlukan kernyitan dahi. Jawabannya biarlah mengalir, seperti air sungai yang ‘berjalan’ dari hulu ke hilir. Penulis tekankan lagi ini hanyalah ‘kira-kira’. Kira-kira, antara laki-laki dan perempuan, mana yang lebih stabil emosinya? Jawaban pertanyaan ini memang beragam. Tetapi kalau dipersentase, nampaknya laki-laki yang emosinya lebih stabil. Emosi wanita cenderung fluktuatif.

Mari kita buktikan. Ada satu keluarga. Sudah lima tahun berumah tangga tetapi tidak juga dikaruniai ‘buah hati’. Alhamdulillāh, di tahun ke-6 pernikahannya, Allah menganugerahkan seorang anak laki-laki yang normal sekaligus tampan. Saat berusia sekitar 5 tahun, sang anak sudah biasa bermain-main dengan teman sebayanya. Tanpa pengawasan langsung yang intensif dari kedua orang tuanya. Tanpa dinyana-nyana, suatu siang datang kabar bahwa anak tadi mengalami kecelakaan.

Dalam kasus di atas, siapa yang pertama kali menitikkan air mata: sang ayah atau ibu? Dengan mudah, kita dapat menjawab: pastilah ibunya. Kemudian, mereka berdua memastikan kebenaran kabar tidak baik itu dengan datang ke lokasi. Ternyata benar musibah itu menimpa anaknya, anak satu-satunya. Siapakah yang kemudian menangis (bahkan langsung pingsan) kala itu? Sang ayah atau ibu? Jawaban yang paling logis dan realistis adalah sang ibu. (Ini hanyalah analogi semata)

Setelah itu, sang anak yang terluka tersebut dibawa-lah ke rumah sakit. Selama sebulan dia dirawat dengan intensif. Berkat usaha dokter dan tentu karena pertolongan Allah, sang anak sembuh. Ia dapat tersenyum-bahagia kembali, mampu beraktivitas seperti sebelumnya. Saat itu, siapa yang pertama kali tersenyum? Jawabannya adalah: sang ibu. Lalu, ayahnya kemana dan ngapain? Ayah “menangis” karena harus melunasi tagihan rumah sakit yang lumayan mahal. (Kalimat terakhir ini sekadar guyonan)

Kisah tadi menjadi penegas bahwa antara laki-laki dan perempuan, yang lebih stabil emosinya adalah laki-laki. Laki-laki mengedepankan akal, sementara perempuan mendahulukan perasaan. Dan hal itu tidaklah menunjukkan bahwa perempuan tidak lebih mulia dari laki-laki. Itulah fitrah dan dalam banyak kasus tidak berlaku mutlak. Boleh jadi dalam formasi pasangan suami-istri, yang lebih tahan emosi adalah sang istri. Tetapi dalam tulisan ini, kita berbicara yang (in) general, yang umum, aghlabiyyah.

Ketiga, stabilitas emosi dapat ditilik dari kualitas (ke)ilmu(an). Dalam bahasa yang lebih keren, ‘gizi intelektualitas’ menentukan stabilitas emosi. Pertanyaan yang menegaskan hal itu adalah sebagai berikut. Kira-kira (sekali lagi, kira-kira), antara orang yang pintar dengan yang bodoh (tidak, atau kurang pintar) mana yang lebih stabil emosinya? Sepertinya, orang yang pintar yang lebih stabil. Sebab dia tahu bahwa marah itu ada tempatnya, dan semakin banyak marah semakin menunjukkan kalau dia “bodoh”.

Oleh karena itu, kalau pendidikan seseorang sudah tinggi tetapi tetap saja emosian berarti masih diragukan kepintarannya. Benarkah dia sudah pandai secara hakiki atau sekadar pandai-pandaian. Dalam masalah agama, orang yang lebih tahu khilafiyyah (dalam masalah cabang, furu’iyyah) dia semakin mampu menghargai perbedaan yang ada. Dia paham bahwa orang lain memiliki dalil yang kuat sehingga amaliyyah ibadahnya berbeda. Dia tidak mudah menghakimi, tidak buru-buru menganggap orang lain salah.

Dalam konteks lain, orang yang masih sering marah, tidak kuat mengendalikan emosi, semestinya lebih banyak belajar. Ilmu, pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan hal positif lainnya insya Allah akan menghantarkannya pada stabilitas emosi. Logika terbaliknya, supaya kita cepat menjadi orang yang pintar maka mari mengendalikan emosi. Ini memang sukar tetapi akan segera terwujud kalau kita terus belajar. Singkatnya, (karena) derajat kepintaran sebanding dengan stabilitas emosi.

Keempat, masalah isi perut yang menjadi ukuran. Poin terakhir inilah yang sangat relevan untuk dibahas (sedikit) lebih dalam di bulan yang sangat mulia (Ramadhan). Sebelumnya, mari kita bertanya. Kira-kira nich, antara orang yang lapar dengan orang yang kenyang, mana yang lebih stabil emosinya? Nampaknya, orang yang kenyang yang lebih stabil. Sebab, dia sudah selesai dengan urusan perutnya dan dapat menatap hidup secara lebih utuh. Sementara untuk orang yang lapar, urusannya menjadi lain.

Bagi orang yang lapar, jangankan berpikir untuk bekerja dan berkarya, urusan perut saja belum kelar. Bagaimana mau berbuat yang baik dan benar kalau perut dalam keadaan lapar. Begitulah kira-kira kondisi orang yang lapar. Para pembaca yang budiman, disinilah menariknya puasa yang akan atau sedang kita jalankan. Kita justru diminta untuk lebih mengendalikan emosi di saat perut dalam keadaan tidak terisi. Kita harus bersabar dalam kondisi haus dan lapar. Menarik sekali bukan?

Sangat wajar kalau Allah sangat mengistimewakan ibadah puasa. Puasa adalah milik Allah, tidak semata-mata milik hamba-Nya. Dan karena puasa itu milik Allah maka Dia-lah yang akan memberikan pahala langsung. Orang yang ‘kuat’ berpuasa adalah orang yang luar biasa. Merekalah yang mampu menahan dirinya dalam kondisi yang lemah dan tidak berdaya. Merekalah yang berupaya berbuat baik secara terus-menerus meskipun keadaan perutnya sedang tidak ‘terurus’.

Ketika seseorang sudah pandai men-stabilkan emosinya dalam kondisi perut tidak terisi maka pastinya dia lebih bersabar di saat perutnya kenyang. ‘Pesantren Ramadhan’, kalau begitu, akan menghasilkan pribadi yang penyabar dan tahan uji. Pribadi yang karena masalah sepele atau besar sekalipun tetap mampu menahan emosi. Kalau puasa diorientasikan ke sana maka hikmah Ramadhan akan semakin terasa. Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah pandai menahan emosi atau amarahnya.

Puasa: ‘Menahan’
Kalau kita kembali kepada makna dasar puasa maka akan ketemu titik simpulnya. Puasa, sudah sangat jelas dan lugas, secara bahasa artinya menahan. Menahan saat berpuasa dalam kacamata fikih berarti: menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri. Tetapi kalau boleh dikaitkan dengan ‘mudik lebaran’, yang demikian itu hanyalah ‘kelas ekonomi’. Muslim yang baik tentu ingin mendapatkan tiket yang lebih baik: bisnis atau (bahkan) eksekutif.

Lalu bagaimana untuk melampaui ‘kelas ekonomi’? Caranya dengan berpuasa yang bukan hanya ragawi tetapi juga maknawi. Tidak makan, tidak minum, dan tidak bersetubuh itu adalah yang kasat mata. Dengan bahasa lain, itu adalah simbol. Makna filosofisnya tentu lebih dalam. Bahwa yang harus ditahan (di-imsāki) sangatlah universal. Termasuk bagaimana menahan diri kita agar tidak mudah marah, dan sebaliknya berusaha untuk senantiasa bersikap ramah.

Menahan (al-imsāku) dalam artian yang luas adalah menahan diri kita dari hal-hal yang tidak baik. Semakin kuat ‘ketahanan’ kita maka semakin sukses puasa yang kita jalankan. Hal ini mungkin diperoleh dengan penghayatan yang mendalam terhadap substansi dari shaum Ramadhan itu sendiri. Dalam bahasan ini, titik tekannya lebih kepada pencapaian stabilitas emosi, sebagai buah manis Ramadhan. Stabilitas emosi (kesabaran) akan menjadikan manusia lebih mulia dan terjaga.

Demikianlah hikmah Jumat minggu ini. Izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada Ust. Sudarmaji, S.Pd atas inspirasinya. Apa yang tertulis di buletin ini adalah ceramah (jelang) terawih beliau, dengan beberapa improvisasi. Paling terakhir, kita berdoa semoga puasa Ramadhan tahun ini benar-benar mendidik kita untuk lebih tahan uji, lebih mampu menahan (men-stabilkan) emosi, alias semakin pantas disebut sebagai pribadi yang sabar atau ‘penyabar’. Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Prodi Hukum Islam FIAI
http://alrasikh.uii.ac.id/2014/07/04/puasa-dan-stabilitas-emosi/ (4 Juli 2014)
Read more

Bahagia Tanpa Syarat

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’du [13]: 28)

Tamsil berikut ini barangkali dapat mewakili kondisi hati manusia pada umumnya. “Saya akan bahagia kalau saya sudah menikah,” kata Fulan kepada teman karibnya. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Takdir menghantarkan Fulan pada perjumpaan dengan seorang gadis shalihah nan cantik. Gadis itulah yang kemudian menjadi istri Fulan. “Bagaimana, Kawanku? Sudahkah engkau menemukan kebahagiaan?” tanya teman Fulan. Seketika Fulan tersadarkan dengan ucapannya 2 tahun lalu.

“Aku memang sudah menikah, Kawan. Dengan seorang wanita yang tidak hanya cantik lahir tetapi juga cantik akhlak dan perangainya,” ucap Fulan lirih. “Tetapi barangkali aku akan bahagia kalau sudah dikaruniai seorang anak nanti,” lanjutnya. Teman Fulan yang sebenarnya ingin memberikan pengertian kepada Fulan, terdiam sejenak. Dia mencoba merangai kata untuk memberikan nasihat kepada Fulan. “Kawanku, sebagai seorang teman saya mengerti bagaimana perasaanmu. Aku pun pernah merasakan hal yang sama dalam kasus yang berbeda,” ujarnya.

“Di awal pernikahan, aku berpikir begini. Mungkin aku bisa bahagia kalau sudah punya rumah sendiri. Tidak lagi tinggal serumah dengan mertua. Setelah punya rumah, pikiranku berubah total. Aku baru bisa bahagia kalau sudah punya mobil pribadi. Tidak lagi pakai motor kemana-mana dan sering kehujanan bila lupa membawa mantel,” lanjut teman Fulan cukup panjang. “Dan sayangnya, Kawan. Pikiranku kembali berubah saat mobil sudah Allah berikan padaku,” tutupnya.

Fulan tertunduk malu, seolah tak tertarik memberikan respon. Saat itu, Fulan merasa “dikuliti” oleh temannya sendiri. “Terus sekarang kamu kok tampak bahagia? Bagaimana resepnya?” tanya Fulan, mulai membuka diskusi. Pundak Fulan ditepuk pelan oleh temannya. “Itulah, Kawan. Semakin kita mensyaratkan sesuatu untuk bahagia maka kita semakin tersiksa. Ironisnya, bahagia tak kunjung datang bahkan seolah menjauh. Bahagia itu sederhana. Bahagia tidak dimana-mana, tetapi ada di sini,” tutur teman Fulan sembari menepuk dadanya sendiri.

“Bahagia itu pilihan. Bahagia milik semua orang. Kita berhak untuk terus bahagia, termasuk dirimu, Kawan. Bahagia itu tidak mensyaratkan apa-apa. Saat kita merasa bahwa Allah telah menganugerahkan segalanya saat itulah kita bahagia. Bukan berarti mengusahakan yang lebih baik itu tidak boleh. Tetapi jangan sampai karena harapan yang lebih itu menjadikan kita tidak bahagia saat ini. Dengan bahagia saat ini justru menjadikan kita lebih siap untuk menghadapi segenap kemungkinan hidup,” pungkas teman Fulan, mengakhiri nasihatnya.

Aura Positif
Saya bersyukur bisa mengikuti seminar motivasi yang diadakan salah satu fakultas di UII. Acara tersebut menghadirkan motivator pemegang Rekor Muri untuk training motivasi dengan peserta lebih dari 18.000 orang. Adalah Nanang Qosim Yusuf (Naqoy), motivator yang saya maksud. Dia menyampaikan renungan tentang banyak hal. Satu hal menarik yang terus terngiang dalam hati saya yaitu tentang bahagia tanpa syarat. Bahagia Tanpa Syarat atau Unconditional Happiness akan menjadi judul buku Naqoy selanjutnya.

Kala itu, Naqoy bercerita tentang seorang yang terus mensyaratkan ini dan itu untuk bahagia. Apa yang terjadi pada akhirnya? Di saat tubuhnya sudah tua renta, dia tidak juga menjumpai bahagia. “Mungkin aku baru akan bahagia di akhirat sana,” katanya. Sementara tidak jaminan mutlak kita akan bahagia di akhirat. Bahagia akhirat adalah akumulasi dari bahagia yang terus kita bangun dan jaga semenjak hidup di dunia. Oleh karena itulah, mengikuti nasihat Naqoy, saat inilah waktu yang tepat untuk bahagia. Bagaimanapun kondisi kita.

Untuk menjadi bahagia memang memerlukan latihan yang biasanya memakan waktu cukup panjang. Latihan tersebut bagai mengumpulkan puzzle bahagia untuk sampai pada bahagia yang sesungguhnya. Bahagia yang sesungguhnya adalah satu paket perasaan yang terkumpul dalam hati dan jiwa. Mereka yang bahagia akan memandang dunia dengan pandangan yang sewajarnya. Sebab, bahagia sejati senantiasa bertautan dengan kesadaran akan hadirnya Allah I, Rabbul ‘Izzati. Bila sudah demikian maka dimensi kebahagiaan menjadi hakiki dan permanen.

Saya kembali teringat pesan Naqoy. Mereka yang bahagia akan memancarkan aura yang penuh kasih. Mereka berjalan di atas kasih sayang Allah I dan karenanya tersadarkan untuk membagikan kasih sayang itu kepada orang lain. Sebaliknya, mereka yang tidak bahagia membawa “aura kasihan”. Tidak ada gairah dalam hidup. Pikirannya dihantui oleh perasaan bahwa dia baru akan bahagia bila sudah begini dan begitu. Padahal jika mereka memilih bahagia, bahagia akan menjadi miliknya. Sekali lagi karena bahagia adalah hak dan pilihan kita.

Kebahagiaan yang kita rasakan memang harus disebarkan kepada semua orang. Kemanapun kita pergi, kita harus membawa aura atau energi yang positif. Saat berjumpa dengan karib kerabat, kolega, dan rekan kerja, senyuman indah dihadirkan. Dikala orang lain butuh nasihat dan masukan maka orang yang bahagia akan dengan mudah memberikannya. Baginya, hidup bukan semata untuk kepentingan pribadi. Tetapi bagaimana hidup yang sebentar dapat memberikan pengaruh positif yang besar.

Bahagia, Menyegerakan Kebaikan
Dampak positif dari bahagia tanpa syarat adalah kesegeraan dalam berbuat kebaikan. Saya masih ingat tadzkīrah seorang kiyai di desa saya dulu. Banyak orang yang bilang: “Saya akan rajin shalat kalau punya motor.” Ketika sudah benar-benar punya motor ada saja alasan untuk tidak rajin shalat. Baik alasan untuk mendapatkan yang lebih dari motor atau karena punya motor hingga lupa shalat. Pepatah bijak berbunyi: “Kalau ada kemauan ada seribu jalan. Saat tidak ada kemauan ada seribu alasan.”

Perasaaan bahagia yang terus terpatri dalam hati menjadikan kita sadar hidup ini cepat atau lambat akan berakhir. Bila selama ini sering berbuat kebaikan maka harus disyukuri tetapi bukan dalam rangka menyombongkan diri. Bila banyak kesempatan untuk berbuat baik yang sering terlewat, sekarang saatnya untuk merebutnya cepat-cepat. Apapun yang kita miliki itulah titipan Allah yang kita harus bahagia karenanya. Esok hari mentari mungkin masih menyapa. Tetapi, usia diri tidak ada yang berani memberi jaminan pasti. Kesempatan kita terbatas(i).

Bahagia memang berbeda dengan sebatas senang. Sebuah diskusi hangat para dosen membahas apakah sama antara bahagia dan senang. Banyak yang cenderung menyatakan bahwa bahagia itu permanen dan hakiki. Adapun senang itu sementara dan tidak bertahan lama. Oleh karena itu, dalam konteks inilah perlu untuk menimbang apakah saat ini kita sedang bahagia atau sekadar senang. Bila kondisi itu menjadikan kita termotivasi untuk terus berbuat (lebih) baik, itu artinya kita memang bahagia. Bila tidak, jangan-jangan itu hanya kesenangan yang menipu.

Perjalanan hidup tentu saja harus melalui proses yang tidak tunggal. Ada suka dan duka. Ada senang juga ada derita. Ada cinta ada pula rasa benci. Tetapi semua itu tetaplah harus dihadapi dengan perasaan yang lapang dan senantiasa kembali kepada-Nya. Luka kehidupan menjadikan kita lebih tegar untuk menatap masa depan. Hidup mungkin saja pahit tetapi kebaikan mungkin kita ukir pada “rongga-rongga yang sempit”. Semua itu tetap dilakukan dalam bingkai syukur dan bahagia.

Allah, Syarat Bahagia
Mungkin banyak yang bertanya, bagaimana melatih diri untuk terus merasa bahagia. Meski onak duri datang menghampiri, senyum manis tetap hadir penuh arti. Pertanyaan itu juga tentu saja muncul dari saya pribadi. Sebagai insan yang sangat dha’if di sisi Allah I, saya pun terus menasihati diri untuk menjaga rasa bahagia dalam hati. Sebagai salah satu caranya adalah dengan mengingat Allah I (dzikrulLāh). Seperti ayat yang saya kutipkan di awal. Hanya dengan mengingat Allah I maka hati menjadi tenang.

Pada prinsipnya bahagia tidak membutuhkan syarat apa-apa. Tidak seperti promosi yang banyak beredar: “Syarat dan ketentuan berlaku.” Syarat bahagia itu sudah mendahului bahagia yang kita idamkan. Saat inilah waktunya untuk bahagia, tidak perlu menunggu lagi. Bila memang kita tetap butuh syarat untuk bahagia maka Allah I jawabannya. Dialah yang memberikan nikmat hidup sekaligus kesempatan untuk bahagia dengan anugerah itu. Bahagia karena Allah I itulah yang menjadikan kita terus terawasi, disayangi, dikasihi, dan merasa tenang.

Saya pribadi berharap, tamsil di awal tulisan ini tidak semestinya menjadi kisah klasik yang masih digemari. Cukuplah ia menjadi kenangan karena saat ini kita sudah bahagia, tanpa syarat dan alasan. Bahagia yang kita rasakan—pada purnanya—adalah nikmat indah dari Allah I. Karenanya, bahagia harus mengantarkan kita pada rasa syukur yang tiada terkira kepada-Nya. “Bagaimana aku bersyukur kepada-Mu padahal syukur itu sendiri adalah nikmat dari-Mu,” ungkap Nabi Dawud u. Selamat berbahagia! WalLāhu a’lamu. []

Samsul Zakaria, S.Sy.
Staf Prodi Hukum Islam FIAI
Sumber : http://alrasikh.uii.ac.id/2014/05/09/bahagia-tanpa-syarat/

Read more

Selamat Menikah Samsul...

Malam yang dingin, disertai dengan gemercik gerimis membersamai acara ngobrol bareng (ngobar) kami di Matto. Tepat pukul 21.00 kami memulai diskusi, tak lupa secangkir kopi panas dan snack, melengkapi suasana hangat malam itu bersama dengan ‘singo’ (santri rong ewu songo) yang berjumlah sepuluh orang.

Jauh jauh hari sebelum acara pernikahan Samsul Zakaria, kami selaku sahabat dan sekaligus teman satu asrama, satu angkatan dan sekaligus satu pesantren di pondok pesantren mahasiswa universitas islam Indonesia sudah menyusun satu rencana. Mulai dari akomodasi perjalanan, kado, dan bahkan sampai mobil apa? Harganya berapa juga berapa? Semuanya kami perhitungkan matang-matang.

Sehingga ditentukan lah satu orang kena berapa rupiah yang harus dikeluarkan. Setelah sepakat maka kami membahas masalah yang kedua, yaitu kado apa yang pas untuk hadiah pernikahan sahabat kami yang satu ini. Karena semuanya memiliki ide dan bagus, maka kamipun kebingungan. Karena tidak ditemukan kata sepakat, akhirnya kami membuat sebuah undian.

Bagi yang nomer undiannya keluar, maka ia berhak membelikan hadiah tersebut. Tetapi ada dua syarat yang harus ia terima, pertama hadiahnya boleh apapun terserah, apapun itu. Yang kedua teman-teman yang lain tidak boleh tahu hadiah/kado tersebut hingga yang bersangkutan membukanya.

Setelah dikocok, maka keluarlah nomer undian 4, teman kami, Ady Guswadi yang dapat nomer undian tersebut. Akhirnya bahasan untuk hadiah pun selesai. Pindah ke bahasan yang ketiga ialah bahasan kendaraan. Dengan pertimbangan dan beberapa survey yang dilakukan maka ada dua rekomendasi tempat rental yang bisa diambil. Tetapi harus menunggu konfirmasi tujuh hari sebelum keberngkatan.

Tempat yang kami tuju ialah jawa tengah, lebih tepatnya ialah kota Banjarnegara. Kira-kira perjalanan yang kami tempuh dari Jogja dengan rute Candi Borobudur sekitar 4 sampai 5 jam, tapi jika lewat Temanggung bisa lebih lama.  Ketika hari H, kami mengambil rute yang terdekat, tetapi ketika pulang kami menggunakan jalan yang lain.

Perjalanan yang cukup melelahkan dan membosankan, sehingga harus molor dan tida sesuai dengan harapan. Kami tidak sempat untuk menyaksikan akad nikhnya samsul, dan kami tiba sekitar pukul 10.00, sedangkan akad sekitar 30 menit yang lalu.

Selamat ya Sul, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah.... ini doa kami dari SINGO "santri rong ewu songo". Dan maaf juga, kami tidak bisa memberikan apa-apa buat kalian berdua. Khusus buat Melan, "kami titip sahabat kami ini, tolong dijaga ya mel...."

Read more

Ekspedisi Dieng

(Senin, 23/09/13) Sekitar pukul 17.00 wib, kami 11 orang berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang, ‘SINGO’ itulah nama kelas kami. Singo berasal dari sebuah singkatan “santri rong ewu songo” artinya santri dua ribu sembilan. Dalam perjalanan ada insiden, salah satu sepeda motor yang kami bawa mengalami masalah. Tapi karena posisi sudah malam, motor itu dipaksa berjalan untuk mencari tukang tambal ban.

Alhasil, setelah dibongkar ternyata bukan hanya bocor ban yang kami temukan, tetapi ban dalamnya sudah sobek sepanjang 20cm. Mau tak mau kami pun menggantinya dengan yang baru, sebab besoknya akan mengadakan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Dieng, itulah the next our destination.

Setelah khatm al-Qur’an untuk orang tua Ahmad Nurdani (Dani) yang sedang melaksanakan ibadah haji. Kami menginap satu malam disana, esok paginya kami berangkat menuju Dieng sekitar pukul 07.30 dari Magelang. Alhamdulilah selama perjalanan tidak ada kendala.

Sepanjang perjalanan sebelum tiba di tempat tujuan, misalnya saja di tugu pandang Dieng, rasa dingin sudah menyambut kami. Sehingga kami pun terpaksa membeli sarung tangan, sal dan penutup kepala untuk mengurangi dingin. Itulah Dieng, meskipun tengah hari tetapi tetap saja dingin. Meskipun demikian, pemandangan indah dari atas pegunungan menjadi obat untuk menangkal rasa dingin tersebut.

Perjalanan yang kami lalui sekitar 3 jam lamanya, pukul 10.30 kami tiba di telaga warna dan foto-foto disana. Sewaktu kami disana ada sepasang kekasih yang sedang melakukan prewed. Ada juga yang lagi ngobrol sama pasangannya dan keluargannya. Setelah menyusuri telaga warna selama 30 menit, kamipun balik lagi.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang. Tak butuh waktu lama untuk tiba disana hanya sekitar 5 menitan. Disana kami disambut dengan bau blerang yang tidak terlalu tajam, tapi lumayan mengganggu. Butuh sekitar 5 menit untuk berjalan menuju Kawah Sikidang yang mengeluarkan asap dan lumpur yang mendidih.

Ada beberapa turis yang membersamai kami ketika menuju kawah, bahkan ketika kami hendak pulang. Para turis itu hampir semuanya membawa kamera untuk mengabadikan momen mereka disana. Selain menawarkan wisata kawah, anda juga bisa berfose dengan kuda putih dan menungganginya.

Sekitar 15 menit kami disana dan foto-foto bareng, akhirnya kamipun memilih kembali dan melanjutkan perjalanan. Tujuan kami yang selanjutnya ialah Candi Arjuna. Dari papan informasi yang kami baca dari papan informasi, nama Candi Arjuna itu hanya penamaan yang diberikan oleh penduduk saja, adapun nama aslinya tidak diketahui.

Selain Candi Arjuna disana juga terdapat nama yang lain. Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Putradewa dan Candi Sembadra. Jadi totalnya ada 5 candi yang ada disana. Sebetulnya masih banyak tempat yang belum kami kunjungi, tetapi karena waktu dan perjalanan pulang yang cukup jauh sehingga kamipun memilih untuk berekspedisi cukup sampai disitu.

Ada banyak wisata yang ditawarkan di Dieng, tapi hanya 4 tempat yang dapat kami kunjungi. Telaga Warna, Kawah Sikidang, Dieng Plateau Theater, dan Candi Arjuna. Air Terjun, Bimolukar, Waduk Walaslintang, Sikunir, dan lain-lain. Adapun makanan khas yang ditawarkan disana yaitu Mie Ongklok dan Buah Carica.

Anda tertarik??... silakan datang dan kunjungi langsung.
Read more
 
SINGO Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template and web hosting