Hidup Membutuhkan Perubahan

Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sampai mereka merubah diri mereka, dan jika Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menghalanginya, dan tidak ada Pelindung bagi mereka selain Dia”(QS al-Radu [13]: 11).

Mungkinkah diri kita “berubah”?. “Perubahan”, percaya atau tidak adalah salahsatu aturan dalam kehidupan ini. Setiap individu pasti akan merasakan perubahan. Perubahan dalam diri individu sangat beragam bentuknya. Ada perubahan dari sifat kurang baik menjadi baik, ada seseorang yang berubah dari sifat baik menjadi lebih baik lagi. Namun, kita tidak dapat menolak bahwa ada pula seseorang yang berubah dari sifat baik menjadi kurang baik, bahkan menjadi orang yang sangat buruk pun masih sering kita dapatkan.

Berubah Bagai Membangun Rumah
“Perubahan” sering diartikan mengganti semua yang telah ada dengan sesuatu yang baru. Perubahan diibaratkan “bongkar pasang” kegiatan atau sifat seseorang dan menggantinya dengan kegiatan atau sifat seseorang yang baru. Disisi lain memang tepat bahwa perubahan diartikan sebagai pergantian segala sesuatu yang lama menjadi baru secara keseluruhan. Namun, disisi lain ada baiknya bahwa perubahan diartikan sebagai penambahan sifat atau kegiatan demi menciptakan sebuah kesempurnaan. Itulah hakikat arti dari “perubahan”.

Dalam hal lain dimisalkan bahwa perubahan bak kita membangun rumah secara bertahap. Adakalanya sebuah rumah tidak dirubah secara keseluruhan. Tidak dibongkar rata dengan tanah lalu dibangun kembali yang baru. Memang secara sepintas hal tersebut dibenarkan. 

Tetapi, apabila kita lihat dan telusuri lebih mendalam bahwa sebuah rumah lama, ada bahan-bahan bangunan yang dapat kita manfaatkan kembali untuk membangun rumah kita yang baru. Atau setidaknya, walaupun bangunan rumah dibongkar rata dan tidak kita manfaatkan kembali sisa bangunanya, minimal barang-barang yang terdapat dalam rumah, kita amankan, kita jaga, kita lindungi, untuk kita manfaatkan selanjutnya di rumah baru kita.

Begitulah sama halnya dengan “perubahan” dalam diri seseorang. Seseorang dapat berubah menjadi baik, adakalanya tidak merubah total perbuatannya. Namun, ia menambahi perbuatan baiknya untuk mendapatkan kesempurnaan dalam perbuatan baiknya itu. 

Seseorang ingin sekali merubah dirinya untuk menjadi Muslim yang sempurna, bukan berarti ia menghilangkan sifat mu’min dan muhsinnya. Seseorang tersebut harus menjaga dan melindungi serta benar-benar dipegang kuat agar sifat muhsin dan mu’minnya itu tidak lepas dari dirinya untuk mendapatkan sifat muslim yang lebih sempurna.

Terkadang kita terlena dengan sebuah penghargaan yang baru saja kita dapatkan. Memang samasekali tidak ada buruknya kita bangga dan bahagia mendapatkan penghargaan. Apalagi penghargaan itu berupa seseorang yang mempunyai ke­islaman sempurna. Patut bahagia dan bangga dengan hal itu. Namun, kita jangan sampai terlena bahwa Islam yang sempurna pun harus dibungkus rapat-rapat serta diselimuti dengan selimut iman dan ihsan yang tebal. Sehingga ketiga titik sudut segitiga ini (Islam, Iman, Ihsan) tidak dapat terpisah sedikitpun.

Hidup Tanpa Perubahan
Pasti pembaca bertanya-tanya, bagaimana “hidup tanpa perubahan”?. Sama halnya dengan penulis, awalnya bertanya-tanya bagaimanakah hidup tanpa perubahan. Apakah ada hidup tanpa perubahan?. Lagi-lagi penulis memberikan permisalan hidup seseorang. Seseorang hidup dan berubah bak kendaraan yang kita gunakan selama ini.

Ada kendaraan sepeda motor yang sangat terbaru dan dipasarkan di masyarakat luas. Semua orang meliriknya, semua orang memastikan keawetan sepeda motor tersebut. Setelah beberapa saat dan waktu sepeda motor tersebut dibelinya dan dimanfaatkan sebagimana mestinya. Apabila sepeda motor tersebut kotor, dicucinya. 

Sepeda motor tersebut dilindungi, dijaga dari terik matahari dan hujan. Sebelum dimanfaatkan, dicek terlebih dahulu kelengkapannya, mulai dari lampunya, remnya, kaca spionnya, businya, bannya, gasnya, dan lain sebagainya. Dengan satu tujuan bahwa sepeda motor tersebut dapat nyaman dan membawa ketenangan dalam berkendara.

Setelah beberapa bulan dan mungkin beberapa tahun, sedikit demi sedikit ada saja yang perlu di benarkan. Baik bannya yang perlu diganti, karena sudah sangat tipis. Businya diganti karena sering mandheg. Remnya diganti karena kampas remnya habis. Dan yang terpenting adalah oli sepeda motor harus selalu diperhatikan. 

Ada yang perlu di jaga, seperti body motor, pemberian oli rante, membersihkan secara rutin, dan perawatan lainnya. Permasalahannya adalah siapa yang memanfaatkan sepeda motor tersebut. Ada orang yang peduli, ada pula orang yang sangat tidak peduli dengan sepeda motornya tersebut, bahkan sampai diperingatkan oleh orang lain untuk menjaga, melindungi, dan mengurusi sepeda motornya tersebut.

Begitulah dengan kehidupan kita. Awalnya suci, bening, lembut. Sampai pada beberapa bulan dan tahun ada perubahan pada diri kita. Baik dari sifat kita, perbuatan kita, keyakinan kita dan lain sebagainya. Mari sadarkan diri kita masing-masing. Penulis mengajak kepada pembaca dan penulis pribadi, apakah kita termasuk orang yang menjaga, melindungi, mengurusi diri kita atau malah sebaliknya. Apakah kita sudah melakukan perubahan pada diri kita menjadi lebih baik atau sebaliknya. 

Semoga saja kita telah sadar dengan kesadarn kita yang sedalam-dalamnya untuk merubah diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya jika kita tidak mau atau malu dengan peringatan orang lain justru untuk merubah diri kita. Jadi pada hakikatnya “hidup tanpa perubahan” adalah hal yang tidak mungkin. Karena perubahan itu pasti kita alami, baik dengan cara apapun.

Hambatan Perubahan
Apakah ada hambatan bagi kita untuk berubah? Penulis sampaikan dengan tegas bahwa tidak ada hambatan samasekali untuk berubah, dengan syarat seseorang yakin pada dirinya untuk berubah. Karena dengan keyakinan seseorang tersebut diiringi usaha maksimal untuk berubah, maka Tuhan tidak jauh dari kita untuk memberikan perubahan. Karena Tuhan sangat dekat dengan kita apabila kita mau selalu mendekatkan diri padaNYA.

Disisi lain, kita tidak bisa menggerutu dan menyesali dunia. Kitapun diharapkan untuk tidak membandingkan zaman, dengan menyampaikan “wah, zaman dulu lebih enak dari sekarang”. Justru ini adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas Iman, Ihsan, dan Islam seseorang. Menghadapi zaman yang selalu berubah adalah cara kita untuk merubah diri menuju tangga berikutnya, sehingga anak tangga yang sangat banyak dapat kita taklukkan sampai pada pucak tertinggi. Sebenarnya tidak ada hambatan bagi seseorang untuk berubah selagi ia mau menghadapi segala sesuatu dihadapannya dengan baik.

Prof. Zaini Dahlan menyampaikan bahwa “hiduplah seperti air mengalir”. Kemudian lebih disederhanakan oleh Dr. Janan Asiffuddin bahwa “hidup seperti air mengalir” itu bukan berarti hidup lurus dan monoton. Hiduplah bagaikan air mengalir, jika ada bebatuan dan rintangan yang menghalang, maka hadapi dengan mencari jalan lain untuk selalu mengalir. Kemudian mengambil jalan lain pun harus mencari jalan aspal yang sehalus mungkin, aspal yang sebaik mungkin, aspal yang matang sehingga tidak akan pernah rusak lagi jalannya. Jangan sampai mengambil jalan yang kasar, yang tidak baik, jalan yang berlobang, segala cara dilakukan demi mendapatkan predikat dan jabatan. Apalagi predikat dan jabatan itu hanya untuk diperlihatkan kepada orang lain, bukan kepada-Nya. Na’ûdzubillâh min Dzâlik.

Akhirnya, Pelajaran Yang Harus Dipetik
Jadilah orang yang selalu berubah. Karena perubahan itu pasti adanya. Pastinya kita meniatkan diri untuk berubah menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Lantas bagaimana dengan perubahan zaman? Kita harus lebih bijak dengan perubahan zaman. Sudah sangat jelas bahwa المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح , “menjaga segala sesuatu yang lama itu baik, dan mengambil yang baru itu baik pula”. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita bisa berubah? Kita yakin kita bisa berubah. Karena Allah telah berfirman dalam al-Qur’an Surat al-Ra’du [13]: 11 إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم . “Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum, sampai mereka merubah diri mereka”.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa kehidupan selalu membutuhkan perubahan. Dan setiap orang harus merubah dirinya sendiri dengan jalan yang baik, halal dan dibenarkan menurut syari’at agama. Dalam perubahan, seseorang hanya mengumpulkan sifat-sifat baiknya yang masih tercecer di sudut-sudut kehidupannya untuk dikumpulkan sehingga menyempurnakan hidupnya. Semoga dengan menyempurnakan sifat-sifat baik tersebut, kita menjadi manusia muhsin, mu’min dan muslim yang sempurna. Amin yaa rabbal ‘âlamîn.[ ]

Syaifulloh Yusuf
Staff Badan Perencana UII
http://alrasikh.uii.ac.id/2013/11/09/hidup-membutuhkan-perubahan/

0 komentar:

Posting Komentar

 
SINGO Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template and web hosting